Ikan Cupang: Makanan Alami, Klasifikasi, Morfologi, Perilaku

Diposting pada

Ikan Cupang: Makanan Alami, Klasifikasi, Morfologi, Perilaku – Ikan hias merupakan jenis ikan yang hidup di air tawar maupun laut yang mempunyai bentuk atau warna tubuh menarik dan indah, salah satu jenis ikan hias dengan keunikan tersendiri dibandingkan ikan hias lainnya adalah ikan cupang betta spp, keunikan yang dimaksud adalah kegemarannya bertarung dengan sesama jenisnya.

Namun tidak menutup kemungkinan dengan jenis lain namun masih dalam satu suku, daya agresifitasnya sangat tinggi sehingga sangat tidak dianjurkan untuk menempatkan atau memelihara ikan ini dalam satu wadah, hal ini dimaksudkan untuk menghindari perkelahian antar sesama individu.

Di khalayak umum, ikan cupang memiliki beberapa nama/istilah diantaranya ikan laga dan ikan adu, sedangkan di mancanegara ikan ini dikenal dengan nama fighting fish atau disebut ikan petarung, istilah tersebut berarti sifat petarung dari cupang telah diakui secara luas, dan di kalangan para penggemar atau hobiis ikan hias, cupang telah mempunyai kalangan hobiis tersendiri.

Adapun para hobiis cupang umumnya terbagi atas dua kelompok, dimana untuk kelompok usia muda dan remaja lebih menyukai gaya bertarungnya, namun untuk kelompok orang-orang lebih tertarik dengan keindahan warna tubuhnya, ikan cupang mempunyai berbagai corak dan pola warna yang unik.

Salah satu yang menjadi ciri khas keindahan cupang adalah saat memamerkan ekornya, bentuk ekor cupang sangat beragam, dimana ada yang menyerupai setengah bulan sabit (halfmoon), adapula yang membulat (rounded tail), mahkota (crown tail), dan slayer.

Oleh karena keindahannya, harga ikan cupang sangat fantastis yaitu bisa mencapai ratusan bahkan jutaan rupiah yang tergantung dengan kualitas dari ikan tersebut, di Jakarta Barat, cupang yang telah memenangkan kontes keindahan laku terjual dengan harga Rp 7,5 juta, bahkan di Palembang keunikan warna cupang telah membuat pembeli dari mancanegara (Thailand) berani membeli dengan harga Rp 35 juta.

Sebagai ikan aduan, harga cupang tidaklah murah, namun tentu saja tidak semahal ikan cupang hias, kualitas dan lamanya jam terbang dalam hal bertarung menjadi harga tersendiri yang ditawarkan, di sekitar Jabodetabek, harga cupang aduan berkisar Rp 25 ribu sampai Rp 50 ribu, sedangkan untuk aduan impor dari Singapura harganya dapat mencapai Rp 250 sampai 300 ribu.

Keistimewaan cupang sebagai ikan hias dan aduan yang sedikit telah diulas tidaklah lengkap apabila belum diungkap tentang beberapa aspek biologi, oleh sebab itu tulisan ini dibuat dengan harapan dapat menambah informasi tentang aspek biologi ikan cupang.


Asal Usul Ikan Cupang

Ikan Cupang Hias

Ikan cupang adalah ikan yang berasal dari asia tenggara, ikan ini pada jaman dulu, sekitar 200 tahun atau 2 abad yang  lalu adalah ikan liar yang ditangkap dari sawah, sungai, rawa oleh orang – orang siam atau sekarang kita kenal sebagai thailan, pada jaman itu orang menangkap ikan cupang dari alam tidak untuk diperlihatkan keindahanya seperti orang – orang lakukan sekarang ini.

Orang Siam atau Thailand dulu mencari ikan cupang dari alam untuk dijadikan sebagai ikan petarung mengingat sifat alami mereka adalah berkelahi untuk mempertahankan wilayah dan disamping itu mereka juga adalah ikan yang hidup secara terpisah.

Mungkin hal itu dilakukan mereka untuk mengisi waktu luang mereka, Tetapi, kegiatan itu menjadi ajang untuk adu kekuatan, pertaruhan, dan harga diri yang menyangkut uang, rumah, atau anggota keluarga atau bisa dibilang Judi, kemudian mereka mengembangkan ikan itu menjadi ikan petarung dengan gigi yang tajam, dan sebagainya.

Harganya dapat mencapai ratusan ribu rupiah, apa bila kualitasnya ekspor, dan yang mirip burung merak ini, adalah halfmoon, atau setengah bulan, sirip nya dapat mengembang sampai setengah lingkaran, plakat bentuknya hampir sama dengan tipe ikan petarung, namun jika amarahnya terusik, tipe plakat ini akan mengembangkan siripnya hingga tegak melebihi 180 derajat.

Hal inilah yang membedakan plakat dengan cupang petarung, asal mula ikan cupang halfmoon yang mendatangkan banyak rejeki, baik warna, sirip dan ekornya yang sangat memikat, halfmoon adalah cupang asal thailand, kurun waktu sepuluh tahun ke belakang ikan ini merambah pasaran Indonesia, harganya bisa mencapai jutaan rupiah, biasanya ikan jenis ini sering dijadikan ajang kontes.


Klasifikasi Ikan Cupang

  • Kingdom : Animalia
  • Filum : Chordata
  • Subfilum : Vertebrata
  • Superclass : Gnathostomata
  • Class : Oesteochytes
  • Superclass : Actinopterygii
  • Superordo : Achantopteri
  • Ordo : Perciformes
  • Subordo : Anabantoidei
  • Famili : Anabantidae
  • Subfamili : Ctenopinae
  • Genus : Betta
  • Spesies : Betta Sp.

Jenis cupang atau betta spp, di dunia tercatat sebanyak 79 jenis, dan 51 jenis berada di Indonesia, sekilas, apabila ditelusuri sebutan nama untuk cupang sebenarnya kurang tepat, dikarenakan pada awalnya cupang adalah sebutan untuk ikan dari marga trichopsis yang mempunyai sifat bertolak belakang dengan cupang dari marga betta lingga.

Warna cupang trichopsis juga sangat jauh berbeda dari pesaingnya, sehingga diduga hal inilah yang membuat keberadaannya sudah sukar ditemukan di pasaran. Cupang yang saat ini dikenal di masyarakat dan para hobiis merupakan ikan pendatang dari luar atau lebih dikenal dengan ikan introduksi asing, jenis cupang hias adalah Betta splendens.

Sedangkan untuk aduan lebih sering dipergunakan jenis Betta smaragdina, keduanya berasal dari Thailand, pada awalnya cupang diintroduksi ke negara Malaysia dan  Indonesia, adapun di Indonesia cupang didatangkan oleh para importir sekitar tahun 80 dan 90 an untuk memperkaya ragam jenis ikan hias.


Morfologi Ikan Cupang

Secara umum cupang memiliki postur tubuh memanjang, dan apabila dilihat dari anterior atau posterior bentuk tubuhnya pipih ke samping atau compressed, kepala relatif besar, mulut kecil dilengkapi dengan bibir agak tebal dan rahang yang kuat, sirip perut ramping memanjang, dan mempunyai warna putih di ujungnya.

Sirip punggung terletak lebih dekat ke arah ekor, bentuknya relatif lebar dan terentang sampai ke belakang dengan jari-jari keras dan lunak, sirip ekor umumnya berbentuk membulat rounded, sirip punggung dan sirip ekor apabila mengembang akan membulat menyerupai kipas dan berwarna indah, sisik tubuhnya ada yang kasar dan halus, serta warnanya sangat beragam, sisik termasuk ke dalam tipe stenoid.

Selanjutnya untuk membedakan cupang jantan dan betina dapat dilihat dari ukuran tubuh, warna dan sirip, umumnya ikan jantan mempunyai sirip punggung dan sirip ekor dengan ukuran lebih panjang dibandingkan betina, ukuran tubuh jantan lebih kecil namun lebih memanjang dibandingkan betinanya, dalam hal warna, jantan lebih menarik dan indah.

Pada ikan betina umummya perut lebih gemuk, dan seringkali telah dapat terlihat bayangan telur-telur, warna pada jenis ikan ini sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu jenis kelamin, kematangan gonad, genetik dan faktor geografi.

Warna tubuh cupang sangat beragam, mulai dari warna gelap, terang, dengan corak yang menarik, kepintaran para pembudidaya ikan dalam hal mengkawinsilangkan cupang, telah membuat ikan hias ini semakin populer dan tentu saja digemari para hobiis, begitupun untuk aduan, dimana ketangkasan, kemampuan, dan daya tahan dalam hal bertarung membuat para hobiis tidak bosan untuk mengkoleksinya cupang aduan.


Habitat Ikan Cupang

Ikan cupang merupakan penghuni perairan tawar seperti danau, sungai dengan arus lambat, rawa dan selokan, namun sekarang cupang sudah dikembangbiakkan, baik sebagai ikan hias atapun aduan di tempat-tempat budidaya.

Kemampuan adaptasi cupang sangat tinggi, diantaranya mampu menyesuaikan diri pada tempat-tempat yang sempit dan tidak memungkinkan jenis ikan lain untuk berkembang biak, cupang sangat menyukai tempat-tempat yang banyak ditumbuhi tumbuhan air, hal ini berguna untuk melindungi dirinya dari burung – burung pemangsa ikan.

Di habitat aslinya, seringkali terlihat cupang menyembulkan ujung moncongnya muncul di permukaan, hal ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan oksigen dari udara bebas, yang kemudian oksigen tersebut akan disimpan didalam labirin.

Labirin adalah suatu organ atau alat pernafasan tambahan yang berfungsi untuk menyimpan udara yang diambil dari permukaan air, letak labirin di daerah kepala tepatnya di bagian insang, adanya labirin menyebabkan ikan cupang dapat hidup di perairan yang kurang kadar oksigennya dalam air.


Makanan Ikan Cupang

Ikan akan bertambah besar apabila jumlah makanan atau pakan yang dimakan dan yang dimanfaatkan oleh tubuhnya lebih besar daripada yang diperlukan untuk mempertahankan hidupnya, pakan yang baik adalah pakan yang jumlahnya cukup, kandungan nutrisinya lengkap, mudah dicerna, disukai oleh ikan, tepat waktu dan berkesinambungan.

Pakan alami merupakan makanan yang cocok untuk pertumbuhan benih ikan cupang karena kandungan nutrisi yang dimiliki seimbang, sesuai dengan bukaan mulut benih dan sistem pencernaannya, cupang termasuk ikan bersifat karnivora yang memakan hampir semua binatang kecil yang hidup di air.

Sedangkan di tempat-tempat budidaya, beberapa pakan alami yang umumnya diberikan yaitu daphnia, moina dan cacing tubifek, ikan cupang juga diketahui merupakan salah satu ikan predator jentik nyamuk, dan pengontrol populasinya, bahkan sebanyak 319 pupa Anopheles stephensi pada wadah yang berisi 2 Liter air dapat dihabiskan dalam waktu satu hari.

Untuk pakan buatan, cupang dapat menerima tubifek form, pelet kering dan udang beku, bahkan rempahan biskuit juga masih bisa diterimanya, namun dengan catatan harus habis agar sisa pakan tidak mengotori tempat pemeliharaan.


Makanan Ikan Cupang Alami Alami

Sejumlah besar organisme membutuhkan penyediaan materi dan energi yang berasal dari molekul organik yang dimakannya, ikan dapat tumbuh jika memperoleh makanan dalam jumlah yang cukup dan gizi yang seimbang, dalam kenyataan sehari-hari terdapat 2 golongan pakan ikan, yaitu pakan alami dan pakan buatan.

Pakan buatan adalah makanan ikan yang dibuat dari campuran bahan-bahan alami atau bahan olahan yang selanjutnya dilakukan proses pengolahan serta dibuat dalam bentuk tertentu, sedangkan pakan alami adalah pakan makanan ikan yang tumbuh di alam tanpa campur tangan manusia secara langsung, makanan alami ikan terdiri dari organisme renik berukuran mikro dan organisme makro yang sangat jelas bila dilihat secara kasat mata.

Ikan cupang memerlukan protein untuk kekuatan dan pembentukan tubuh, juga memerlukan vitamin dan mineral penting lainnya untuk aktivitas dan menjaga daya tahan tubuhnya, jenis pakan alami yang cocok bagi pertumbuhan dan perkembangan untuk ikan cupang antara lain cacing tubifex sp, jentik nyamuk, dan kutu air.

Jika ditinjau dari segi ekonomi, pemberian cacing Tubifex sp, sebagai pakan ikan terutama ikan hias turut mengurangi biaya produksi, selain biaya pengkulturannya yang relatif murah dan sederhana juga dapat memenuhi nutrisi yang dibutuhkan oleh ikan.

Jentik nyamuk dapat dibudidaya sendiri dengan cara cukup menyediakan wadah yang diisi dengan air dan di biarkan terbuka dan setelah dibiarkan beberapa hari muncul jentik-jentik nyamuk yang siap diberikan untuk ikan cupang.

Penggunaan jentik nyamuk sebagai pakan ikan cupang dapat mengurangi populasi nyamuk sehingga bisa dikatakan sebagai upaya pencegahan penyakit demam berdarah maupun malaria yang dapat menjangkit siapa saja dan kapan saja, kutu air biasanya mudah diperoleh di selokan atau di got.

Untuk menjaga kualitas kutu air agar tidak mudah bau dan membusuk dapat dilakukan dengan cara menyimpannya di dalam freezer, sebelum diberikan untuk ikan cupang, kutu air yang telah beku dibiarkan dahulu diruang terbuka agar pada saat akan diberikan sudah dalam keadaan tidak beku dan tidak terlalu dingin.


  • Cacing Tubifex sp.

Dalam ilmu taksonomi hewan, cacing Tubifex sp, digolongkan dalam kelompok Nematoda, cacing Tubifex sp, dijuluki sebagai cacing sutra karena memiliki tubuh yang lunak dan sangat lembut seperti halnya sutra.

Cacing Tubifex sp, termasuk organisme yang bersifat hermaprodit atau berkelamin ganda, yakni kelamin jantan dan betina menyatu dalam satu tubuh, memiliki warna tubuh yang dominan kemerah-merahan, ukuran tubuhnya kecil dan ramping dan memiliki panjang sekitar 1-2 cm, dan sangat senang hidup berkelompok atau bergerombol, habitat dan penyebaran cacing Tubifex sp.

umumnya berada di daerah tropis dan hidup di dasar perairan yang banyak mengandung bahan-bahan organik terlarut yang merupakan suplai makanan terbesar bagi cacing Tubifex sp, itu sendiri, selain itu, cacing Tubifex sp.

Juga senang membenamkan kepalanya untuk mencari makanan, serta ekornya yang mengarah ke permukaan air berfungsi untuk bernafas, cacing Tubifex sp, memiliki saluran pencernaan yang berakhir pada anus yang terletak di sub-terminal, sedangkan mulutnya berupa celah kecil yang terletak di daerah terminal.


  • Jentik Nyamuk

Nyamuk merupakan sejenis serangga yang termasuk dalam filum arthropoda, ada beberapa jenis nyamuk antara lain jenis Anopheles, Aedes, dan Theobaldia, perkembangbiakan nyamuk terjadi melalui perkawinan, antara 1-8 hari setelah menghisap darah, nyamuk betina mulai bertelur yang diletakkan di permukaan air, setelah telur menetas, larva inilah yang disebut dengan jentik- jentik.

Larva dan pupa bersifat akuatik, dapat dijumpai di kolam, atau wadah- wadah yang berisi air, pernafasan jentik nyamuk menggunakan trakea, dan pengambilan pernafasan tersebut terjadi pada waktu jentik-jentik menyembulkan bagian ekornya ke permukaan air.

Pada umumnya, bentuk tubuh jentik nyamuk memanjang yang terdiri dari 12 ruas, kakinya sangat pendek sehingga gerakannya hanya meliuk-liukkan tubuhnya, serta makanannya berupa detritus (kotoran yang mem,busuk dalam air) dan beberapa jenis jasad renik seperti ganggang, bakteri dan lain-lain.


  • Kutu Air

Kutu air merupakan udang-udangan yang paling primitif dan banyak digunakan sebagai pakan alami untuk ikan hias, kutu air yang terkenal adalah Daphnia sp dan Moina sp, dalam penelitian ini, kutu air yang digunakan sebagai pakan ikan cupang adalah jenis Daphnia sp.

Makanan kutu air terdiri dari tumbuhan-tumbuhan renik dan detritus, lingkungan yang mendukung pertumbuhan kutu air yang memiliki pH antara 6.6- 7.4, dan bersuhu antara 22-31ºC, kutu air memiliki bentuk tubuh yang pipih kesamping.

Dinding tubuh bagian punggung membentuk suatu lipatan sehingga menutupi bagian tubuh beserta anggota-anggota tubuh pada kedua sisinya, bentuk tubuhnya tampak seperti cangkang kerang-kerangan, cangkang pada bagian belakang membentuk sebuah kantong yang berguna sebagai tempat penampungan dan perkembangan telur.

Telur-telur yang dihasilkan induk betina ditampung di dalam kantong telur yang terletak di atas punggung, moina sp, akan menjadi dewasa dalam waktu 5 hari dari total umurnya yaitu 30 hari, sedangkan Daphnia sp, menjadi dewasa dalam waktu 4 hari dan umur yang dapat dicapai hanya 12 hari.


Pertumbuhan Ikan

Pertumbuhan merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan suatu kegiatan usaha budidaya perikanan khususnya dalam pencapaian target produksi, dalam hal ini pemberian pakan adalah faktor yang sangat perlu diperhatikan, pertumbuhan adalah pertambahan ukuran, baik panjang maupun berat, pakan berperan penting sebagai makanan yang sangat dibutuhkan oleh ikan.

Untuk menghasilkan pertumbuhan, makanan akan diproses terlebih dahulu di dalam tubuh sehingga diperoleh sejumlah energi, jumlah energi yang digunakan untuk pertumbuhan tergantung pada jenis ikan, umur, kondisi lingkungan, dan komposisi makanan.

Pertumbuhan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain faktor genetik, hormon, dan lingkungan, sebagian besar energi dari makanan digunakan oleh ikan untuk metabolisme basal, dan sisanya digunakan untuk aktivitas, pertumbuhan dan reproduksi.


Konversi Pakan Ikan Cupang

Konversi pakan (Feed Convertion Ratio/FCR) adalah suatu ukuran yang menyatakan rasio jumlah pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan penambahan 1 kg daging ikan, konversi pakan seringkali dijadikan sebagai indikator kinerja teknis dalam mengevaluasi suatu usaha akuakultur.

Nilai konversi pakan berbanding terbalik dengan pertambahan bobot sehingga semakin rendah nilai konversi pakan berarti semakin efisien ikan yang memanfaatkan pakan yang dikonsumsi untuk pertumbuhannya, sedangkan pertumbuhan dan produksi yang tinggi artinya apabila jumlah pakan yang diberikan seminimal mungkin.

Semakin kecil rasio konversi pakan, semakin cocok makanan tersebut untuk menunjang pertumbuhan ikan, sebaliknya semakin besar konversi pakan menunjukkan pakan yang diberikan tidak efektif memicu pertumbuhan.


Efisiensi Pakan

Efisiensi pakan merupakan jumlah pakan yang masuk dalam sistem pencernaan ikan untuk melangsungkan metabolisme dalam tubuh dan dimanfaatkan untuk pertumbuhan Pakan yang diberikan pada ikan harus mempunyai rasio energi protein tertentu yang dapat menyediakan energi non protein dalam jumlah yang cukup tinggi sehingga protein digunakan sebagian besar untuk pertumbuhan.

Protein sangat diperlukan oleh tubuh ikan baik untuk menghasilkan energi maupun pertumbuhan, rendahnya efisiensi pakan menyebabkan ikan merombak beberapa jaringan tubuh, untuk mencukupi kebutuhan energi, untuk memelihara kondisi tubuh dan mempertahankan fungsi jaringan tubuh lain yang lebih vital, akibatnya pertumbuhan ikan menjadi terhambat dan dalam kondisi parah dapat menyebabkan kematian.


Reproduksi

Reproduksi ikan lebih dikenal dengan istilah pemijahan, dimana terjadi suatu peristiwa pertemuan antara ikan jantan dan ikan betina yang bertujuan untuk pembuahan telur oleh spermatozoa, ikan jantan umumnya akan mengeluarkan spematozoa ke dalam air di sekitar sel-sel telur yang dikeluarkan oleh ikan betina.

Proses keluarnya spermatozoa terjadi relatif bersamaan ketika sel telur dilepaskan oleh betina, dalam hal pemijahan cupang tidak memerlukan tempat yang luas, cukup disediakan akuarium kecil, atau ember plastik, baskom, dapat juga dipergunakan toples dengan kondisi yang relatif bersih.

Tidak lupa diberikan tanaman air seperti eceng gondok (Eichornia crassipes) yang berfungsi sebagai substrat untuk sarang busa bubble nester, sarang busa inilah yang nantinya sebagai media peletakkan telur-telurnya, cupang memijah pada malam hari, dengan kondisi lingkungan antara lain suhu 26,5° – 31,0°C, pH 6,0-8,0, dan DO 6,6-7,3 ppm.

Sebelum memijah, induk jantan dan betina akan melakukan ritual saling berkejar-kejaran, dan setelah berhasil didekati jantan akan memperlihatkan sirip-siripnya ke betina, kemudian dengan segera melipatkan dirinya ke seluruh tubuh ikan betina.

Pada saat itulah hampir secara bersamaan betina melepas telur dan jantan mengeluarkan sperma, kemudian telur-telur ikan yang telah dibuahi akan melayang turun dan dengan cepat akan disambar oleh jantan, dikarenakan apabila telur terlambat dan sampai jatuh ke dasar dapat menyebabkan telur gagal menetas, jumlah telur yang dihasilkan oleh cupang, selanjutnya telur-telur tersebut akan menetas menjadi larva ikan dalam jangka waktu 3 sampai 4 hari.


Perilaku Ikan Cupang

Salah satu sifat yang terdapat pada ikan cupang adalah berkelahi dengan satu sama yang lainnya untuk mempertahankan wilayahnya, sifat agresifnya menjadi daya tarik tersendiri bagi seseorang untuk menyukai ikan ini.

Saat bereproduksi ikan cupang mempunyai ciri khas yang unik, yaitu menari ketika bertelur, betina akan mendekati sarang dan memiringkan badannya untuk dijepit oleh jantan dengan meliukkan tubuhnya agar jantan dapat menyemprotkan spermanya ke telur-telur tersebut cupang mempunyai alat pernapasan tambahan yang disebut labirin (labyrinth).

Alat pernapasan tambahan ini dipergunakan untuk mengambil oksigen langsung dari udara, karena itu, cupang mampu hidup walaupun dalam kondisi kekurangan oksigen terlarut di dalam air dan tanpa aerator, berdasarkan cara berkembangbiaknya, cupang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu:


  • Kelompok Pengumpul Busa (Bubblenester)

Spesies cupang yang termasuk pengumpul busa diantaranya Betta imbellis, Betta smaragdina, Betta akaransis, Betta coccina atau cupang api-api, dan Betta fasciata atau cupang sumatera.


  • Kelompok Perawat Telur (Mouthbreeder)

Spesies cupang yang termasuk perawat telur diantaranya Betta macrostoma atau Brunei Beauty, Makropodus opercularis atau cupang paradise, Betta urimacullata atau cupang emas, dan Betta brederi atau cupang raja.

Demikian sedikit pembahasan mengenai Ikan Cupang: Makanan Alami, Klasifikasi, Morfologi, Perilaku semoga dengan adanya pembahasan ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan untuk kita semua, dan kami ucapkan Terima Kasih telah menyimak ulasan kami.

Baca juga artikel lainnya tentang: