9 Jenis Hama Pada Tanaman Jagung dan Cara Pengendaliannya!

9 Jenis Hama Pada Tanaman Jagung dan Cara Pengendaliannya!  – Faktor utama yang megakibatkan rendahnya hasil jagung di Indonesia adalah pemakaian varietas lokal, kurangnya kesuburan tanah yang dibarengi pula oleh kurangnya memadai pemupukan serta serangan hama dan penyakit, di daerah tropis dan sub tropis yang sedang berkembang, hama dan penyakit bahkan merupakan penghambat utama dalam hal stabilitas produksi.

Di Indonesia telah diketahui sekitar 50 spesies serangga yang telah menyerang tanaman jagung meski hanya beberapa di antaranya yang sering menimbulkan kerusakan yang berarti, dalam pengendalian hama terpadu, besarnya kehilangan hasil yang telah disebabkan oleh suatu hama adalah sangat esensial diketahui.


Hama Pada Tanaman Jagung dan Cara Pengendaliannya

9 Jenis Hama Pada Tanaman Jagung dan Cara Pengendaliannya!

Pada kesempatan sebelumnya admin sudah membahas artikel tentang 8 Jenis Penyakit Pada Tanaman Jagung dan Cara Pengendaliannya nah pada kesempatan kali ini admin akan membahas tentang Hama Pada Tanaman Jagung dan Cara Pengendaliannya. Simak baik-baik ya penjelasan dari admin hehehe.

Beberapa macam hama yang dapat merusak  tanaman Jagung, gejala kerusakan dan pengendaliannya adalah  sebagai berikut :


  1. Ulat Tanah (Agrotis sp.)

Akibat : menyerang tanaman jagung muda pada saat malam hari, sedangkan pada siang hari ulat tanah akan bersembunyi di dalam tanah, ulat tanah menyerang batang tanaman jagung muda dengan cara memotongnya, akhirnya tanaman jagungpun akan mati.

Pengendalian:

  • Dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida biologi dari golongan bakteri seperti Bacilius thuringiensis atau insektisida biologi dari golongan jamur seperti Beauvaria bassiana.
  • Insektisida Dursban 20 EC, dengan dosis 2 ml pada 1 liter air.
  • Pada hectare dapat digunakan 500 liter larutan.

  1. Ulat daun (Prodenia litura)

Ulat daun dapat menyerang pada bagian pucuk daun, umur tanaman yang telah diserang  adalah 1 bulan dan daun tanaman apa bila sudah besar menjadi rusak.

Pengendalian: Pencegahan dengan penyemprotan insektisida folidol, basudin, diazinon dan agrocide dengan ukuran 1,5 cc dalam tiap 1 liter air.


  1. Lalat bibit (Atherigona exigua)

Gejala: ada bekas gigitan pada daun, pucuk daun layu, dan akhirnya tanaman jagung akan mati.

Pengendalian:

  • Parasitoid yang memarasit telur adalah Trichogramma spp, dan parasit larva adalah Opius sp. Dan Tetrastichus sp. Predator Clubiona japonicola yang merupakan predator imago.
  • Hama lalat bibit biasanya menyerang ketika 1–2 bulan pada musim hujan, maka dengan mengubah waktu tanam, pergiliran tanaman dengan tanaman bukan padi, tanaman dengan tanaman bukan padi, dengan tanam serempak serangan dapat dihindari.
  • Varietas Resisten adalah Galur-galur jagung QPM putih yang tahan terhadap lalat bibit adalah MSQ-P1 (S1)-C1-12, MSQ-P1(S1)-C1-44, MSQ-P1(S1)-C1-45, sementara galur-galur jagung QPM kuning yang tahan terhadap serangan hama ini adalah MSQ-K1(S1)-C1-16, MSQ-K1(S1)-C1-35, MSQ-K1(S1)-C1-50.
  • Kimiawi dengan menyemprotkan larutan HCH 5% ketika berusia 5 hari, atau pengobatan dengan menyemprotkan insektisida Hostathion 40EC, sebanyak 2cc tiap liter air dengan volume semprotan 100 liter tiap hektar lahan jagung atau menggunakan insektisida dapat dilakukan saat benih menggunakan thiodikarb (dosis 7,5-15 g b.a./kg benih) atau karbofuran (dosis 6 g b.a./kg benih).
  • Selanjutnya setelah tanaman jagung berusia 5-7 hari, tanaman dapat disemprot dengan menggunakan karbosulfan (dosis 0,2 kg b.a./ha) atau thiodikarb (0,75 kg b.a/ha). Penggunaan insektisida hanya dianjurkan di daerah endemik.

  1. Ulat Grayak (Spodoptera sp.)

Gejala: Larva kecil dapat merusak daun dan dapat menyerang secara serentak bergerombol dengan meninggalkan sisa-sisa epidermis bagian atas, transparan bahkan tinggal tulang daunnya saja, biasanya larva terdapat pada permukaan bawah daun, umumnya terjadi saat musim kemarau.

Pengendalian :

  • Pengendalian secara fisik biasanya menggunakan alat perangkap ngengat sex feromonoid sebanyak 40 buah/Ha semenjak tanaman jagung berusia 2 minggu.
  • Pemakaian agensia hayati dapat dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami seperti: Cendawan Cordisep, Aspergillus flavus, Beauveria bassina, Nomuarea rileyi, atau Metarhizium anisopliae, bisa juga dari golongan bakteri seperti Bacillus thuringensis.
  • Pemakaian patogen virus untuk ulat ini juga dapat dilakukan dengan menggunakan Sl-NPV (Spodoptera litura – Nuclear Polyhedrosis Virus), parasit lain yang dapat digunakan adalah Parasitoid Apanteles sp., Telenomus spodopterae, Microplistis similis, atau Peribeae sp.
  • Secara kimiawi dapat dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif profenofos, klorpirifos, sipermetrin, betasiflutrin atau lamdasihalortrin, dosis atau konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

  1. Penggerek Batang (Ostrinia fumacalis)

Gejala: dari penggerek batang adalah Larva O. Furnacalis memiliki karakteristik membuat kerusakan di setiap bagian tanaman jagung yaitu membentuk lubang kecil pada daun, lubang gorokan di batang, bunga jantan, atau pangkal tongkol, batang dan tassel yang mudah patah, serta tumpukan tassel yang rusak.

Pengendalian:

  • Kultur teknis.
  • Waktu penanaman yang tepat.
  • Tumpangsari jagung dengan kedelai atau kacang tanah.
  • Pemotongan bagian bunga jantan (4 dari 6 baris tanaman).
  • Hayati pemanfaatan musuh alami seperti : Parasitoid Trichogramma sp. Parasitoid tersebut dapat memarasit telur O. Furnacalis, predator Euborellia annulata, predator ini selain memangsa larva juga memangsa pupa O. Furnacalis.
  • Bakteri Bacillus thuringiensis Kurstaki, Cendawan Beauveria Bassiana dan Metarhizium Anisopliae mampu mengendalikan larva O. Furnacalis.
  • Penggunaan insektisida berbahan aktif diklhrofos, karbofuran, monokrotofos, atau triazofos efektif dapat menekan serangan penggerek batang jagung.

  1. Penggerek Tongkol (Heliotis armigera, Helicoverpa armigera.)

Gejala: hama penggerek tongkol merupakan imago betina akan meletakkan telur pada silk (rambut) jagung, rata-rata produksi telur imago betina adalah 730 butir, telur akan menetas dalam tiga hari setelah diletakkan dan setelah menetas larva akan menginvasi masuk ke dalam tongkol jagung kemudian akan memakan biji yang sedang mengalami perkembangan.

Infestasi serangga ini akan menurunkan kualitas maupun kuantitas tongkol jagung, pada lubang–lubang bekas gorokan hama ini terdapat kotoran–kotoran yang berasal dari hama tersebut, biasanya hama ini lebih dahulu menyerang pada bagian tangkai bunga.

Pengendalian:

  • Kultur teknis dengan pengolahan tanah yang baik dapat merusak pupa yang terbentuk dalam tanah dan dapat mengurangi populasi H. Armigera.
  • Pengendalian Hayati dengan musuh alami yaitu Parasit, Trchogramma spp yang merupakan parasit telur dan Eriborus argentiopilosa (Ichneumonidae) parasit pada larva muda, cendawan, Metarhizium anisopliae.menginfeksi larva, bakteri, Bacillus thuringensis dan Virus Helicoverpa armigera Nuclear Polyhedrosis Virus (HaNPV).
  • Pengendalian larva Penggerek Tongkol pada tanaman jagung, dapat dilakukan dengan menyemprotkan insektisida Decis dapat dilakukan setelah terbentuknya rambut jagung pada tongkol dan diteruskan 1-2 hari hingga rambut jagung berwarna coklat.

  1. Belalang (Locusta sp., dan Oxya chinensis)

Belalang adalah Hama yang menyerang terutama pada bagian daun, daun yang terserang akan terlihat rusak karena serangan dari belalang tersebut, jika populasinya banyak serta belalang sedang dalam keadaan kelaparan, hama ini dapat menghabiskan tanaman jagung sekaligus sampai tulang–tulang daunnya.

Pengendalian: secara kimiawi dapat dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif profenofos, klorpirifos, sipermetrin, betasiflutrin atau lamdasihalortrin, dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.


  1. Kumbang Bubuk (Sitophilus zeamais Motsch)

Gejala: Merusak biji jagung pada saat penyimpanan dan juga dapat menyerang tongkol jagung di lahan, telur diletakkan satu persatu di lubang gerekan di dalam biji, larva menggerek biji jagung serta hidup di dalam biji.

Pengendalian:

  • Melakukan pengelolaan tanaman, serangan dari hama kumbang bubuk dapat terjadi ketika jagung masih berada di lahan budidaya apabila jika tongkol terbuka, tanaman yang kekeringan, dengan pemberian pupuk rendah mengakibatkan tanaman mudah terserang busuk tongkol sehingga dapat terinfeksi oleh kumbang bubuk, panen dengan tepat waktu pada saat tanaman jagung sudah matang secara fisiologis dapat mencegah Sitophilus zeamais, karena pemanenan tertunda dapatmengakibatkan meningkatnya kerusakan biji jagung saat penyimpanan.
  • Varietas Resisten/Tahan, pemakaian varietas dengan kandungan asam fenolat yang tinggi dan kandungan asam aminonya yang rendah dapat menekan kumbang bubuk, serta penggunaan varietas berpenutup kelobot yang baik.
  • Menjaga kbersihan serta pengelolaan gudang yang baik, kebanyakan hama gudang bersembunyi atau melakukan hibernasi sesudah gudang tersebut kosong, untuk itu gudang harus dibersihkan semua, struktur gudang serta membakar semua biji yang telah terinfeksi, biji-biji yang telah terkontaminasi harus dijauhi dari area gudang, lalu dimusnahkan, selain itu, karung-karung bekas yang masih berisi sisa biji jagung juga harus dibuang, semua struktur gudang diperbaiki, termasuk dinding retak, dimana serangga dapat bersembunyi di dinding yang retak, pada dinding maupun plafon gudang disemprot dengan menggunakan insektisida.
  • Persiapan Biji Jagung Simpanan, sebelum penyimpanan, perhatikan terlebih dahulu kadar air dalam biji jagung, kadar air dalam biji jagung ≤ 12% dapat menghambat perkembangan kumbang bubuk, perkembangan populasi kumbang bubuk dapat meningkat apabila kadar air 15% atau lebih.
  • Fisik dan Mekanis, ketika suhu lebih rendah dari 50°C dan di atas 35°C perkembangan serangga akan berhenti, penjemuran dapat menghambat perkembangan kumbang bubuk, sortasi dilakukan dengan memisahkan biji rusak yang terinfeksi oleh serangga dengan biji sehat (utuh).
  • Bahan Tanama, mengendalikan hama kumbang bubuk selama proses budidaya jagung bisa juga menggunakan bahan organik dari tanaman, seperti daun Annona sp., Hyptis spricigera, Lantana camara, daun Ageratum conyzoides, Chromolaena odorata, akar dari Khaya senegelensis, Acorus calamus, bunga dari Pyrethrum sp., Capsicum sp., maupun tepung biji dari Annona sp. dan Melia sp.

  1. Kutu Daun (Mysus persicae)

Gejala: Hama ini mengisap cairan pada tanaman jagung terutama pada daun muda, kotorannya pun berasa manis sehingga mengundang semut serta berpotensi menimbulkan serangan sekunder yaitu cendawan jelaga, serangan parah dapat mengakibatkan daun tanaman mengalami klorosis(menguning), serta menggulung, kutu daun Mysus juga menjadi serangga vektor penular virus mosaik.

Pengendalian: dapat menggunakan insektisida berbahan aktif abamektin, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin, dosis atau konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.


Serangan Hama Pada Setiap Fase Pertumbuhan Tanaman Jagung

Serangan Hama Pada Setiap Fase Pertumbuhan Tanaman Jagung

Fase pertumbuhan tanaman jagung dapat dibagi menjadi lima fase, yaitu:

  • Mulai menanam sampai tanaman itu tumbuh.
  • Mulai tumbuh sampai tanaman itu membentuk bunga jantan dan bunga betina.
  • Penyerbukan dan pembuahan.
  • Pembentukan biji, mulai dari pembuahan sampai biji mencapai berat maksimum.
  • Pemasakan dan pengeringan biji dan batang.

Dari berbagai jenis serangga yang menjadi hama pada tanaman jagung, ada spesies hama yang hanya menyerang pada sate fase tersebut di atas, tapi ada juga yang menyerang hampir setiap fase pertumbuhan, disaat fase pertama tidak banyak hama yang menyerang kecuali semut yang kadang-kadang mengurangi jumlah benih yang telah tumbuh.

Pada fase kelima biasanya mulai terjadi infeksi berbagai spesies hama gudang yang kemudian akan berkembang setelah panen, terutama dalam penyimpanan, penggerek batang jagung dapat menyerang setiap fase pertumbuhan tanaman, namun akhir fase kedua sampai awal fase keempat merupakan fase yang paling peka.

Heliothis sp. yang dikenal sebagai penggerek tongkol juga dapat menyerang pada fase kedua dan ketiga, ulat grayak juga dapat menyerang keseluruh stadia pertumbuhan tanaman jagung, tapi paling banyak memunculkan kerusakan pada fase kedua dan ketiga.


Kerugian Hasil Panen Karena Hama Menyerang Pada Tanaman Jagung

Penelitian tentang besarnya kerugian hasil panen yang diakibatkan oleh hama pada tanaman jagung hampir belum pernah dilakukan di Indonesia, menurut perkiraan, kerugian hasil panen akibat hama jagung di negara sedang berkembang sekitar 30% setiap tahun.

Kerugian hasil tersebut disebabkan oleh penggerek batang, ulat grayak, dan perusak tongkol, hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Harnoto dan Sukarna menunjukkan bahwa perbedaan hasil antara petak yang diberi perlakuan insektisida dan kontrol beragam dari 17-52%.

Balai Penelitian Tanaman Pangan (Balittan) Maros sudah melakukan penelitian dan menunjukkan bahwa perbedaan hasil antara yang di perlakuan insektisida dan kontrol juga sangat beragam, perbedaan hasil tersebut berkisar 4,5-54,5 %.

Besar kecilnya perbedaan tersebut pada biasanya tergantung dari berbagai faktor antara lain jenis dan cara penggunaan insektisida, jenis dan tingkat serangan hama, serta umur tanaman ketika mendapat serangan, tanaman jagung dapat rusak total jika ditanam pada periode populasi tinggi dan bertepatan dengan stadia larva instar ke 3 hama lundi Phyllophaga helleri.

Kehilangan hasil yang disebabkan oleh penggerek batang Ostrinia furnacalis dapat mencapai 80%, bahkan tidak jarang dilaporkan terjadi kerusakan total, heliothis sp. terutama merusak tongkol jagung, sehingga kualitas jagung apabila dijual muda harganya akan menjadi lebihmurah.

Tongkol dapat rusak secara keseluruhan apabila serangannya diikuti oleh tumbuhnya cendawan yang menghasilkan mikotoksin,sedangkan ulat grayak akan memakan daun sampai tanaman itu menjadi gundul dan mati, terutama pada saat terjadinya peledakan populasi.

Demikian sedikit pembahasan mengenai 9 Jenis Hama Pada Tanaman Jagung dan Cara Pengendaliannya! semoga dengan adanya pembahasan ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan untuk kita semua, dan kami ucapkan Terima Kasih telah menyimak ulasan kami.

Baca juga artikel lainnya tentang: