Teknik dan Cara Pembenihan Ikan Kerapu Macan Pada Bak Beton

Diposting pada

Pakan Buatan

Pakan buatan mulai diberikan setelah larva berumur D-15 dengan cara ditebar merata pada permukaan bak pemeliharaan larva dengan frekuensi pemberian pakan setiap satu jam sekali atau sampai pakan yang diberikan benar-benar habis.

Ukuran pakan yang diberikan sesuai dengan umur ikan dan bukaan mulutnya. Pemberian pakan buatan dimaksudkan untuk mencegah kekurangan nutrisi dan gizi yang tidak terdapat pada pakan alami.

Dengan bertambahnya umur larva maka ukuran pakan yang diberikan semakin besar dan jumlahnya semakin bertambah.

Contoh Tabel Komposisi nutrisi dan karateristik

No Bentuk Ukuran partikel (mm) Komposisi
Protein Lemak Serat Abu
1 Granule < 0,20 < 48 < 10 < 2 < 20
2 Granule 0,20 – 0,31 < 48 < 10 < 2 < 20
3 Granule 0,31 – 0,48 < 48 < 10 < 2 < 20
4 Granule 0,48 – 0,0,63 < 52 < 12 < 2 < 20
5 Granule 0,63 – 1.06 < 52 < 12 < 2 < 20
6 Soft Pellet 1,10 – 1,30 < 54 < 9 < 3 < 17
7 Soft Pellet 1,50 – 1,90 < 54 < 9 < 3 < 17

Contoh Tabel Jadwal pemberian pakan larva

Jenis pakan

Umur larva

Minyak ikan  Fitoplankton Zooplankton pelet artemia udang jambret
D1 * * *
D2 * * *
D3 * * * *
D4 * * * *
D5 * * * *
D6 * * *
D7 * * *
D8 * * *
D9 * * *
D10 * * *
D11 * * *
D12 * * * *
D13 * * * *
D14 * * * *
D15 * * * *
D16 * * * *
D17 * * * *
D18 * * * *
D19 * * * *
D20 * * * *
D21 * *
D22 * *
D23 * *
D24 * *
D25 * * *
D26 * * *
D27 * * *
D28 * * *
D29 * * *
D30 * * *

Pemberian pakan buatan pada larva dapat meningkatkan vitalitas benih karena komposisi pakan buatan sudah diatur kandungan nutriennya.

Perkembangan Larva

Larva yang baru menetas berukuran 0,2 cm. Pada saat ini larva masih memiliki kuning telur sehingga belum memerlukan makanan.

Pada umur ini bak pemeliharaan diberikan minyak ikan dan chlorella. Minyak ikan diberikan dengan tujuan agar larva yang baru menetas ini tidak dapat berenang sampai ke permukaan karena tertutup oleh minyak ikan tersebut.

Seperti diketahui bahwa larva yang berumur kurang dari 12 hari apabila berenang ke permukaan, maka akan sulit untuk kembali ke badan air.

Hal inilah yang sering menjadi penyebab kematian masal pada kerapu macan. Selain itu, minyak ikan juga berfungsi untuk mengurangi lendir yang dihasilkan oleh larva yang baru menetas.

Tekanan permukaan dapat mengakibatkan kematian massal pada larva dan minyak ikan terbukti dapat mengurangi tekanan permukaan air serta memudahkan larva yang terjebak di permukaan air kembali berenang ke badan air.

Sedang pemberian chlorella bertujuan untuk menjaga keseimbangan kualitas air dan pakan zooplankton dalam bak pemeliharaan

Contoh Tabel Tahap Perkembangan Larva

Hari ke Tahap Perkembangan Panjang (mm)
D1 Larva baru menetas transparan, melayang dan tidak aktif. 1,89 – 2,11
D3 Timbul bintik hitam di kepala dan pangkal perut. 2,14 – 2,44
D7 Timbul calon sirip punggung yang keras dan panjang. 7,98 – 8,96
D9 Timbul calon sirip punggung yang keras dan panjang. 15,88 – 17,24
D25 Sebagian duri mengalami reformasi dan patah, pada bagian ujung tumbuh sirip awal lunak 20,31 – 22,64
D30 Sebagian larva yang pertumbuhannya capat telah berubah menjadi burayak (juvenil), bentuk dan warnanya telah menyerupai ikan dewasa. 22,40 – 23,42

Pada hari ke 7 sirip punggung dan sirip dada mulai tumbuh. Panjang larva telah mencapai 0,3-0,4 cm.

Pada umur ini bak pemeliharaan mulai dilakukan penyiponan yang bertujuan agar kotoran-kotoran hasil penetasan telur dan sisa-sisa pakan  yang berada di dasar bak dapat dibersihkan.

Pada umur ini tingkat mortalitas larva tinggi. Hal ini merupakan akibat dari pertumbuhan sirip dada dn sirip punggung tersebut.

Namun tingkat pertumbuhan relatif cepat karena larva sudah mulai terbiasa memangsa pakan yang diberikan.

Pada hari ke-13 larva mulai diberikan pakan naupli artemia. Pemberian artemia ini terbukti dapat mempercepat laju pertambahan panjang larva dari hari ke 13-25.

Nauplii artemia memiliki kandungan nutrisi protein sebanyak 52,50% yang mempunyai perana penting dalam mempertahankan fungsi jaringan secara normal, untuk perawatan jaringan tubuh, mengganti sel-sel yang rusak dan pembentukan sel-sel baru.

Kematian larva tertinggi terjadi pada umur 12-16 hari dimana pada saat itu larva mulai memangsa pakan artemia namun tidak dilakukan penyiponan sehingga menimbulkan kekeruhan pada dasar bak.

Selain itu kematian juga terjadi pada hari ke-5 sampai panen yang di sebabkan oleh terjadinya point of no retrun yaitu suatu keadaan dimana hanya 50% larva yang mampu makan pada kondisi dimana terdapat jumlah pakan yang optimal sedang sisanya tidak lagi mampu makan.

Point of no retrun dapat terjadi karena kesalahan menetukan jadwal pakan atau keterlambatan pemberian pakan serta rendahnya mutu pakan.

Pada setiap siklus kedua juga sering terjadi penurunan tegangan listrik pada malam hari akibat hujan sehingga mengakibatkan aliran listrik menjadi mati.

Hal ini menimbulkan kematian pada larva akibat kekurangan oksigen karena matinya aerasi.